Sabtu, 07 Juli 2012

Fanfiction : Be Mine [Chapter 3]


Title           : Be Mine [Chapter 3]
Author      : Nur Halimah (@im304)
Genre       : Romantic, Dramatic, Fiksi, Horor, Konyol, Yadong, Garing (?) *tentukan sendiri!
Rating       : PG +13
Length      : Multi Chapter
Cast           :
·         Cho Kyuhyun – Super Junior
·         Henry – Super Junior
·         Lee Dongbin
·         Lee Eun Hee
·         Other…

Annyeong readerdeul!! Balik nih bawa Chapter 3. Yang kemarin gimana? Semoga ga bikin pusing ya alurnya ^^. Hope you like it :D

Langsung aja ke cerita.. Readers yang baik, tolong yah nanti RCL FF ini.. menerima kritik dan saran.

WARNING!!
Banyak typos, alur ngga jelas, sulit dipahami, bikin pusing, bikin ngantuk, bikin laper, de el el. GA SUKA GA USAH BACA ! YANG SUKA SILAHKAN BACA ^^.. SILENT READERS, GO OUT!!

SAY NO TO PLAGIATISM AND NO BASHING!!

~HAPPY READING~

Previous Story:
“Kau mau bilang apa? Katanya ada hal penting?” tanya Dongbin to the point.
“Dongbin, would you be my girlfriend?”

Dongbin’s POV:
Kaget? tentu. Nerveous? Pasti. Bingung? Banget.

“a..akk..aku…”

Aku tak melanjutkan apa yang akan kukatakan. Dia menatapku lekat, sangat lekat. Selekat lem kastol untuk menempelkan sandal yang lepas. Lekat sekali.

Dia, Henry, hanya tersenyum lembut padaku. Jantungku terus berdebar tiada henti, ini membuatku ingin mati.

“Kau bisa memikirkannya dulu kalau belum siap untuk menjawabnya” ucapnya plus dengan bumbunya, senyuman manis tanpa boraks atau tawas (?)

“Anni.. aku bisa menjawabnya sekarang” tukasku sebelum dia pergi meninggalkanku. Tapi, aku mau jawab apa?

“Okay, I’ll be your girlfriend” jawabku malu-malu. Dia tersenyum lagi padaku dan memelukku sekilas saja, mungkin takut dilihat orang lain. Tapi aku senang. Kita, aku dan Henry JADIAN ^^

Author’s POV:
“Jinja? Chukkae! Jangan lupa pajak jadiannya. Setelah camping ini ya?” ucap Eun Hee sambil memainkan handphonenya. Dia mendengar cerita dari Dongbin kalau dia baru saja ditembak DOR oleh Henry. Tapi dia tidak mati, mungkin hatinya hanya sedikit meledak.

“hu.. maunya” balas Dongbin sambil menimpuk sahabatnya dengan bantal kodok di kamarnya. Dongbin semangat sekali saat menceritakan kabar ‘WAH’ itu, sedangkan Eun Hee, sahabatnya, hanya memasang telinga dan cemal cemil memakan kacang goreng yang disuguhkan Dongbin.

Tuutt tuuutt..
From : Henry
Honey, lagi ngapain? Jalan yuk? Mumpung lagi nggak ada tugas nih.. :*

“Eun Hee, lihat ini! Henry sms aku kaya gini nih” pekik Dongbin sambil menarik temannya untuk membaca sms di ponselnya itu. Ya, sms dari namja barunya, Henry.

“Iuuuh, dia tuh alay banget ya? Pake emoticon cium segala” respon Eun Hee berlagak jijik dan nggak peduli.

“Huh kamu ini! ini tanda sayang tauk” protes Dongbin tidak terima Henry dibilang ‘alay’. Tapi dia segera membalas sms itu dan bersiap untuk jalan bareng namjachingunya.

***
Malam-malam begini mau kemana?

“Kencan pertama..” balas Henry masih menggandeng tangan yeojanya. Siapa lagi kalau bukan Dongbin.

Kencan di hutan belantara kaya gini? Ini mah bukan kencan, tapi berburu di tengah hutan malam hari, ucap Dongbin dalam hati.

Tangan kanan Henry membawa senter, sedang tangan kirinya menggenggam tangan Dongbin agar tidak pergi kemana-mana. Rupanya dia ingin mengajaknya ke suatu tempat.

SRREKKK SREKKK, GREK! “aaaaa, Henry..”

Henry’s POV:
DONGBIN!!!
Aku sempat panic saat kutemui tangannya sudah lepas dari genggamanku. Aku khawatir dia hilang, malam-malam begini.

“Chagi, gwaenchana?” tapi untung dia belum lepas begitu jauh dari tanganku. Wajahnya yang pucat ketakutan, tidak mengatakan apa-apa. Hanya membalas anggukan.

“Ada seseorang yang menarik tanganku” kata Dongbin perlahan.

“Mian, aku tidak sengaja” kudengar suara laki-laki di dekatku. Lalu, langsung kusorot wajahnya dengan senterku.

“Kyuhyun! Ternyata kau? Huhh..” tukas Dongbin setelah melihat wajah namja itu. Kyuhyun? Siapa dia?

Tapi, namja itu tidak memberi respon yang baik pada Dongbin. Diam dan dingin, itu sikapnya. Aku tak tahu mengapa, kufikir memang itu bawaan dari lahirnya.

Dia berlalu, aku dan Dongbin segera melanjutkan perjalanan ke tempat yang ingin kutunjukkan padanya.

***
“Bagaimana? Indah bukan pemandangan dari sini?”

“Heemb.. indah sekali. Kukira kencan kita, kau mengajakku berburu  babi hutan. Ternyata di sini” babi hutan?!

“tapi aku suka” tambahnya. Dengan tersenyum. Dia tampak manis tersenyum di bawah cahaya bulan seperti ini. aku suka.

“Chagi, Kyuhyun itu siapa?”

Aku bertanya karena rasa penasaranku. Dia sempat berhenti sejenak, tak tahu mengapa. Tapi dia menjawab juga.

“Kyuhyun itu anak akselerasi, tapi dia bakal lulus duluan dari kita. Dulu sempet ketemu aja”

“Dia itu orangnya kaya gimana?

“Dia itu menyebalkan. Sikapnya dingin, cuek, tak peduli. Tapi kadang dia baik, menawarkan bantuan. Kalau dia tak ada waktu itu menolongku, matilah riwayatku” kalau tidak ada Kyuhyun yang membantunya, dia akan mati?

“memang dia membantu apa?” tanyaku penasaran.

“aku malu untuk mengatakannya. Tapi ini keadaan darurat untukku saat itu” yak! Mengapa jawabannya seperti itu?

“kau suka dia?” tanyaku tiba-tiba. Aku tidak tahu mengapa, ini tidak terproses dalam otakku.

“Mengapa kau tanya begitu? Aku kan hanya menyukaimu. Kau cemburu” OKE! Untuk kali ini aku harus menjawab bagaimana?

“Hmmm. Sedikit” ucapku terbata. Aku takut menjawab salah.

Yang terjadi? Dia malah memeluk manja di lenganku. Setidaknya aku tidak melakukan kesalahan.

“Tenang, chagi. Aku akan selalu menyayangimu selama kau juga menyayangiku”. Akankah itu?

Kami berdua tak membahas itu lagi. Aku tak ingin kencan pertama membahas orang lain yang ‘kukira’ Dongbin sempat menyukainya. Tapi dari cara dia menceritakannya, tampaknya dia sebal dengan namja akselerasi bernama Kyuhyun itu. Ah, whatever!

***
Kyuhyun’s POV:
Di sekolah, seperti biasa saat istirahat, aku pergi ‘alone’ di taman samping sekolah. Tempat ini tidak seramai taman yang lain, ini yang aku suka. Taman itu, tempat mencari ketenangan setelah berjam-jam berkutik dengan buku-buku membosankan.

BREKK! BREKK! BREKK!
Suara apa itu? Baru pertama mendengarnya.

BREKK! BREKK! BREKK!
Suara itu lagi, berisik. Aku mencoba mendekat ke sumber suara itu. Dia, yeoja panitia camping minggu lalu yang merepotkan. Baru pertama kali dia berada di sini saat istirahat. Pertama kali pula membuat gaduh di saat aku sedang menikmati ketenanganku.

“Tidak bisakah kau tidak menggangguku sehari saja? Berisik!”

Dia, hanya melirik ke arahku dan tersenyum. Buang senyum itu, aku tak butuh senyummu. Yang aku butuhkan hentikan hentakan kakimu yang mengganggu ketenanganku!

Setidaknya dengan begitu, dia berhenti melakukannya. Aku kembali ke tempat semula. Duduk sambil mendengarkan music MP3.

“Kyuhyuuuunn!!” kaget bukan main, mengapa dia datang lagi?!

“mau apa?!” tanyaku ketus. Padahal baru saja aku memintanya untuk tidak menggangguku.

“Kau tahu aku baru saja mendapatkan apa?” aku bertanya padamu, mengapa kau balik bertanya?

“aku tidak mau tahu” balasku ketus.

“aku baru saja mendapatkan cokelat dari seseorang”

“dari siapa?”

“kau bilang tidak mau tahu?” huh!

“Baiklah, abaikan saja”

“Dari Henry” terus apa hubungannya denganku? Henry? Siapa Henry?

Ring ding dong ring ding dong..
“sudah masuk sana” tanpa melihatnya aku langsung pergi melompat pagar dan masuk ke kelasku. Kembali berkutik dengan pelajaran membosankan. Tapi setidaknya matematika setelah ini, aku tidak akan bosan.

Saat aku melewati lorong di dekat pagar, aku sempat melihat seorang namja dan yeoja sedang bercengkerama di sana. Eh, bukankah yeoja itu Eun Hee, panitia camping minggu lalu? Jadi, itu pacarnya? Ya, aku ingat Eun Hee yang sudah mau membantuku dengan memberikan benda aneh dari luar angkasa itu. Tapi, aku tak melihat jelas namjanya itu. Dia memakai topi yang sedikit diturunkan, aku hanya bisa melihat bibir dan hidungnya. Matanya tak kelihatan.

Ah, untuk apa aku mengurusi orang lain? Urusanku juga masih banyak. Aku pun segera berlari menuju kelas sebelum disemprot ocehan oleh Mr. Cho, guru matematikaku.

Author’s POV:
Pelajaran sudah selesai, seluruh siswa keluar dari kelasnya masing-masing. Beberapa siswa pulang, tapi sebagian lagi masih di sekolah sekedar bermain basket. Seperti yang dilakukan Henry dan lainnya.

Henry, tidak sendiri saat bermain basket dengan temannya. Dia ditemani yeojanya, Dongbin. Dia mengajak yeojanya untuk melihat kemahirannya bermain basket. Di bangku pinggir lapangan, Dongbin bersorak sorai member semangat pada Henry, padahal tidak ada pertandingan apa-apa. Dia hanya terlalu bersemangat.

“Lelah? Ini minumnya”

Henry tersenyum dan meneguk sebotol air dingin yang diberikan Dongbin setelah basket selesai.

“Kau sendirian saja? Mana temanmu?” tanya Henry sambil membersihkan keringat.

“Eun Hee? Dia pulang duluan. Dia tidak mau kuajak, dia bilang malas. Ya, akhirnya aku menunggu sendiri” jawab Dongbin.

“Lalu Kyuhyun? Anak akselerasi itu?” mengapa jadi Kyuhyun? Memang dia siapaku? Pikir Dongbin dalam hati.

“kok Kyuhyun sih? Mana aku tahu, aku kan tidak akrab dengan dia”

“Ya, mungkin saja dia sekedar duduk lihat basket juga. Jangan ngambek dong” Henry mendekat ke Dongbin dan mencoba untuk menghiburnya. Yeojanya marah karena dia terus menanyakan Kyuhyun.

“Sudahlah, ayo pulang” Dongbin tidak memperdulikan Henry. Dia langsung berjalan keluar gerbang sekolah. Tak disangka, mereka berpapasan dengan Kyuhyun.

“Eh, tidak disangka kita bertemu lagi. Baru saja aku membicarakanmu” ucap Henry saat berjumpa dengan Kyuhyun.

Sepertinya aku pernah melihatnya. Oh! Dia yang pergi ke bukit bersama yeoja ini saat camping dulu kan? Kyuhyun mencoba untuk mengingat-ingat.

“Hanya kebetulan” balasnya cuek. Kyuhyun memang seperti itu, bersikap cuek pada hal yang dianggapnya tidak begitu penting.

“Nah, kau lihat sendiri kan? Dia cuek sekali. Mana mungkin aku menyukainya?” kata Dongbin berbisik pada Henry.

“Hey, aku mendengarnya” tukas Kyuhyun yang sebenarnya mendengar apa yang dikatakan Dongbin pada Henry. Kau pikir aku tuli? Gerutu Kyuhyun dalam hati.

“Perkenalkan, aku Henry. Terima kasih dulu sudah menyelamatkan yeojaku” ucap Henry pada Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun imnida” balasnya tanpa mengungkit-ungkit masalah ‘menyelamatkan yeojanya’. Dia tidak begitu peduli.

“Chagi, kajja kita pulang” Dongbin sudah tidak sabar segera pergi dari tempat itu. Dia tidak tahan melihat Kyuhyun menyueki namjanya terus.

“Baiklah. Sampai ketemu lagi, Kyuhyun”

***
Kyuhyun’s POV:
Selasa waktu itu, aku sengaja berangkat pagi sekali. Aku berencana mencari ketenangan sebelum aku gagal seperti kemarin saat di taman. Diganggu oleh yeoja tengil milik Henry, entah siapa namanya itu.

Kelasku, berada di lantai dua dekat laboratirum Kimia. Tanpa sengaja aku melihat seorang namja yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dia Henry, namja yang baru saja bertemu kemarin.

Aku melihat dia sedang bersama seorang yeoja, tapi bukan yeoja tengil penggangguku itu. Aku berpikir paling mereka berdua hanya membicarakan urusan umum. Tapi betapa kagetnya aku saat melihat Henry mengecup lembut rambut yeoja itu. Dia pikir tidak ada orang lain di sekolah pagi-pagi begini? Dengan frontalnya dia berpacaran di balik tangga. Oh tidak. Dia selingkuh!

***
“Hey, Kyuhyun”

DUAKK!!!
Tanpa sadar, aku memukul wajah Henry yang saat itu sedang jalan bersama yeojanya. Itu di luar kontrolku. Aku hanya terbakar emosi saat melihatnya bersama yeoja lain tadi pagi.

Okay, apa yang kau lakukan Kyuhyun? Cemburu? Anni, kau hanya kasihan pada yeoja pengganggu itu. Apa ini tindakan yang tepat?

“Hey, Kyuhyun! Kau tak tahu apa yang sudah kau lakukan? Mengapa kau memukul namjaku, hah?!” yeoja itu berteriak-teriak padaku, sambil menatap kasihan pada namja brengsek itu.

“Neo… paboya yeoja!” kemudian aku langkahkan kakiku menjauh dari mereka. Dari namja brengsek dan yeoja bodoh.

TO BE CONTINUE

0 komentar:

Poskan Komentar