Selasa, 23 Oktober 2012

Fanfiction : Be Mine (Chapter 7)


Title           : Be Mine [Chapter 7]
Author      : Nur Halimah (@imah403)
Genre       : Romantic, Dramatic, Fiksi, Horor, Konyol, Yadong, Garing (?) *tentukan sendiri!
Rating       : PG +13
Length      : Multi Chapter
Cast           :
·         Cho Kyuhyun – Super Junior
·         Henry – Super Junior
·         Lee Dongbin
·         Lee Eun Hee
·         Shin Min Hwa
·         Other…

Annyeong readerdeul!! Balik nih bawa Chapter 7. Yang kemarin gimana? Semoga ga bikin pusing ya alurnya ^^. Hope you like it :D

Langsung aja ke cerita.. Readers yang baik, tolong yah nanti RCL FF ini.. menerima kritik dan saran.

WARNING!!
Banyak typos, alur ngga jelas, sulit dipahami, bikin pusing, bikin ngantuk, bikin laper, de el el. GA SUKA GA USAH BACA ! YANG SUKA SILAHKAN BACA ^^.. SILENT READERS, GO OUT!!

SAY NO TO PLAGIATISM AND NO BASHING!!

~HAPPY READING~

Previous Story:
…“Dijodohkan atau adakan audisi perjodohanmu sendiri”
“AUDISI PERJODOHAN?!!”

Henry’s POV:
Hari ini, aku datang lebih awal dari biasanya. Ada yang ingin aku katakana dengan Dongbin, terkait masalah di taman kemarin sore.

Kulihat banyak orang mengerumuni papan pengumuman yang tertempel di dekat pintu utama masuk. Karena penasaran, aku pun mengikuti mereka. Aku membaca apa yang tertera pada kertas A4 berwarna biru itu. apa ini? dongbin mengadakan audisi untuk menjadi namjanya? Apa tidak salah?

“Hey, kelinci bodoh! Kau ini memalukan sekali ya? Audisi perjodohan? Itukah caramu meredam patah hatimu?” suara itu terdengar taka sing lagi. Suara Kyuhyun yang sedang mengejek Dongbin.

“Whatever! Ini yang terbaik” jawab Dongbin sayup-sayup. Yang terbaik?!

“Mwo?!! Kalau ini yang terbaik, yang terburuk seperti apa ya? Hhhaha” kata Kyuhyun mengekor di belakang Dongbin yang berjalan melewatiku. Mata kami bertemu, saling menatap.

“Dongbin, ada yang ingin aku sampaikan padamu” ucapku saat dia berjalan di dekatku. Tapi nihil, dia tak mau membalasnya.

“Kacang, kacaang, kacaaangnyaa” sahut Kyuhyun yang masih di belakangnya, sambil tertawa puas padaku. Sialan!

Dongbin’s POV:
Audisi itu benar-benar membuatku frustasi! Aku harus menahan rasa malu karena banyak orang mengolokku.

“Lucu sekali. Mencari jodoh di umur 20 tahun begitu. Cepet banget, mau ngapain tuh?”
“Kasihaan sekali ya. Ini perjuangan karena tidak lakku kali ya? Hhaha”

Dan masih banyak kalimat-kalimat yang mereka lontarkan padaku selama tiga hari ini. ini semua karena kakek T.T. kurasa masa mudaku adalah masa-masa terberatku >,<

Kyuhyun’s POV:
Audisi perjodohan itu konyol sekali. Bagaimana bisa dia dengan percaya dirinya menempelkan berita tentang audisi itu dan dibaca oleh banyak orang pula? Kurasa, dia sudah tidak waras :o

--Nae show, nae show, opera….—
Dari kamar mandi, aku segera berlari mengambil ponselku. Ada panggilan. Dari Dongbin?
“Yeoboseo… nde?... jinja?... eodinde?... oh, ne” KLIK! Huft! Ada apa lagi ini?

***
“Mwo?!” aku benar-benar tak habis pikir. Dongbin menghabiskan bir 50 botol? Gila, ini perut waduk apa?

“Kurasa kau sudah tidak waras lagi Dongbin” ungkapku tak percaya, sambil menuntunnya yang berjalan sempoyongan.

“Aku memang sudah tidak waras, Kyu..hyun! gila, gila, gii..laa” tukasnya ngelantur, seperti orang mabuk pada umumnya.

Aku tidak berniat membawanya pulang dulu, aku khawatir dia akan dimarahi orang rumanya. Jadi, aku membawanya ke taman pinggir kota.

Walau dibilang aku ini ‘Evil’, tapi untuk ini bukan aku. Melihat Dongbin yang mabuk berat membuatku tak tega, dan sedikit malu karena dilihat banyak orang. Bagaimana tidak? Dia berjalan di pinggir kolam taman sambil menyanyi dan tepuk tangan begitu. Tragis kan?

“Hey, kelinci bodoh! Sebenarnya apa yang membuatmu jadi begini, ha? Aku bisa ikut gila kalau melihatmu seperti orang gila begini” tanyaku karena tak tahan mendiaminya.

“Banyaaak sekali. Yang pertama. Aku masih merasa bodoh. Dibodohi pacar dan sahabat sendiri. Mereka backstreet tanpa sepengetahuanku. Nan jeongmal baboya” Dia berjalan tidak seimbang, jadi aku menuntunnya dari bawah. Benar-benar kurang kerjaan.

“Yang kedua, masalah audisi perjodohan itu. semua orang mengolokku, seakan aku tidak tahu kalau ini adalah hal bodoh, termasuk kau! Sebenarnya aku tahu ini hal yang sangat bodoh dan memalukan”

“Lalu mengapa kau masih melakukannya?”

“Huh! Ini pilihan satu-satunya. Kalau tidak, aku akan dijodohkan oleh kakekku. Dua minggu sesudahnya, kami akan ditunangkan. Ini membuatku gila!” waah, kakeknya ngebet banget ya?

“Kakek bilang, kakek ingin melihat aku segera menikah.. lalu hamil lalu unya banyak anak.. lalu tinggal bahagia dengan keluargaku sendiri.. happy ending happily ever after..” busyet keek!

“Tapi, bukankah umurmu baru 20 tahun? Punya banyak anak? Aku tak bisa membayangkannya”

“Maka dari itu..” ucapnya menggantung. Lalu, tiba-tiba saja dia berhenti berjalan.

“Kok berhenti?” tanyaku. tapi dia malah memeberiku isyarat agar mendekat. Dia merundukkan kepalanya dan..
CUP! Dia menciumku????? Eomaaaa, aku sudah tidak perjaka lagi!! *eh,eh,eh ;p

Kira-kira 5 detik, dia menempelkan bibir mungilnya pada bibirku. Setelah itu, BLANK! Sepatah katapun tak keluar dari mulutku. Seolah bibirku sudah dikunci oleh bibirnya. Dongbin menciumku? I impossible to believe!

Aku melepas genggamanku, karena shock. Itu mengakibatkan dia kehilangan keseimbangan. Dan, BYUURR! Terjatuhlah ia ke kolam (-o-)

Author’s POV:
“Hoaaahhmm..”
Dongbin menguap lebar, kemudian menarik selimut dan kembali tidur. Tak peduli matahari pagi sudah menyambutnya. Yang ingin dia lakukan saat ini adalah kembali menikmati tidurnya.

“Ireona!!”
“Dongbin, Ireonna!!” yak! Siapa yang berani membangunkanku?  Rutuknya di balik selimut.

“Kyuhyun?! Apa yang kau lakukan di kamarku?” Dongbin langsung terperanjat bangun begitu melihat Kyuhyun sudah berdiri di depan ranjangnya.

“Kamarmu? Lihat dulu, ini diman.. ini apartemenku, bodoh!” hentakkan Kyuhyun membuat Dongbin kaget. di kamar Kyuhyun?

Dongbin melihat benda-benda di sekelilingnya. Benar, ini bukan kamarnya. Dia masih terus memandang hingga dia berhenti pada satu titik.

Dongbin’s POV:
BAJUKU!?
Kau yang me..melepas bajuku d..dan memakaikan in..ini?” tanyaku bergetar. Satu kata yang aku harapkan dia jawab ‘Anni’.

“Ne..” jawabnya datar tanpa dosa. Aaaaaaa!
Dia melihatku dengan tatapan aneh. Mungkin karena wajahku seperti orang kesurupan kali ya?

“Aku bukan pengamat anatomi tubuh manusia. Jadi, aku tidak tertarik untuk melihat tubuhmu” kata Kyuhyun. Ah, itu sudah cukup membuatku sedikit lega.

“tapi sedikitlah tidak sengaja..em..menyenggol” JLEB!

“Bagaimana aku bisa disini?” tanyaku mengalihkan topic.

“Kau tanya aku? Ingat-ingat sendiri!” huh! Jawaban macam apa itu?

“Aku pergi untuk minum, lalu mabuk. Aku melihatmu menuntunku berjalan dari bawah. Lalu kau mendekat dan…” aku mencoba mengingat lagi apa yang aku lakukan kemarin.

“Hyaa! Kau mendorongku ke kolam kan? Hingga aku terjatuh kan?” pekikku sambil melempar bantal padanya. Dia malah melongo. Wae?

“Aish, bukan aku! Sudahlah, cepat mandi! Kau pulang tidak?” ucapnya lalu menarikku dan mendorongku ke kamar mandi. Setan menyebalkan!

Kyuhyun’s POV:
Aku melongo apa adanya. Jadi dia tidak ingat? Aku harus senang atau sedih ya?

“Kok ngelamun?” tanyaku mencairkan suasana hening di dalam mobil. Sedari tadim kulihat dia selalu menatap keluar jendela dan melamun.

“Kyuhyun, apa kemarin kita berciuman?”

CKIIKK.. DUG!
“Aww,.. yak! Kau ini bisa menyetir mobil tidak sih, Kyu?” teriaknya sambil memegangi jidatnya. Aku tidak menggubrisnya. Dia ingat masalah ciuman itu..

Aku pun melanjutkan kembali perjalanan, tanpa berani mengajaknya bicara.

“Kau menciumku kemarin kan?” tanyanya lagi. Tolong, jangan membuatku grogi..

“Hey, siapa yang mencium siapa? Mudah sekali kau menyimpulkan aku yang menciummu? Hiss” sangkalku. Apakah mabuk dapat memutarbalikkan fakta?

“Sudah sampai”
Akhirnya sampai juga di rumahnya. Sebenarnya aku ingin menendangnya keluar dari mobil saat di jalan tadi. Karena dia menyalahkanku terus, kalau aku menciumnya!

“Gomawo sudah menjagaku saat mabuk. Menggantikan baju basaku dengan baju kedodoranmu dan mengantarkan pulang. Aku sudah memaafkan kesalahanmu yang sudah menciumku tanpa izin dan mendorongku ke kolam” ucapnya panjang lebar. Masih saja bilang ini semu salahku? >-<

“Terserah! Oh, aku tanya, audisi yang kau adakan itu kapan?” tanyaku setelah keluar dari mobil.

“Besok jam tiga sore di rumahku. Apa? Kau mau ikut audisi itu?” tukas Dongbin mengagetkanku.

“Enak saja. Barangkali saja ada temanku yang berminat” sangkalku lagi. Aku ikut audisi itu? iuh, -____-

“Ne. aku harus pergi. Persiapkan jiwamu untuk audisi besok” ejekku. Dia manyun dan memukulku dengan tasnya. Aww.

“Gomawo” ucapnya. Aku balas senyum dari mobil dan segera pergi.

Author’s POV:
Hari ini adalah hari terberat dan terburuk bagi Dongbin. Pasalnya, dia harus mencari sendiri jodohnya melalui audisi yang menurutnya bodoh itu.

“Dongbin, ini sudah terlewat 68 peserta. Haruskah kau menunggu sampai peserta ke-70?” tanya Kakek Dongbin melalui telepon.

“Sabar, kek.. aku belum menemu..”
“Kakek akan menjodohkanmu saja” belum sempat Dongbin melanjutkannya, kakek sudah menyela duluan.

Dongbin menghembuskan nafas pasrah. Dia harus mampu menerima nasib apa yang akan menimpanya nanti.

“Peserta ke-69 masuk” teriak Dongbin lemas. Dia sudah kehilangan semangat untuk menyeleksi jodohnya.

Peserta ke-69 masuk dan berdiri di depan Dongbin yang tak meliriknya sama sekali.

“Nuguseo?” tanya Dongbin, sama seperti pada 68 peserta sebelumnya.

“Namaku bisa dilihat di daftar pada kertas yang kau bawa, Lee Dongbin”
Mendengar jawaban itu, Dongbin jengkel. Beraninya dia bersikap seperti itu padaku!?

Dongbin menoleh pada sosok namja di depannya. Dia kaget, tak habis pikir akan melihat namja itu lagi. Tapi, lain halnya karena dia di sini menjadi peserta audisi.

“Sekarang kau tahu siapa aku dan namaku kan?”

TO BE CONTINUE.

0 komentar:

Poskan Komentar