Rabu, 17 Oktober 2012

Fanfiction : Be Mine [Part 6]


Title          : Be Mine [Chapter 6]
Author      : Nur Halimah (@im304)
Genre        : Romantic, Dramatic, Fiksi, Horor, Konyol, Yadong, Garing (?) *tentukan sendiri!
Rating       : PG +13
Length       : Multi Chapter
Cast           :
·         Cho Kyuhyun – Super Junior
·         Henry – Super Junior
·         Lee Dongbin
·         Lee Eun Hee
·         Shin Min Hwa
·         Other…

Annyeong readerdeul!! Balik nih bawa Chapter 6. Yang kemarin gimana? Semoga ga bikin pusing ya alurnya ^^. Hope you like it :D

Langsung aja ke cerita.. Readers yang baik, tolong yah nanti RCL FF ini.. menerima kritik dan saran.

WARNING!!
Banyak typos, alur ngga jelas, sulit dipahami, bikin pusing, bikin ngantuk, bikin laper, de el el. GA SUKA GA USAH BACA ! YANG SUKA SILAHKAN BACA ^^.. SILENT READERS, GO OUT!!

SAY NO TO PLAGIATISM AND NO BASHING!!

~HAPPY READING~

Previous Story:
… Aku tak menyangka akan seperti ini. KALIAN BENAR-BENAR JAHAT!!

Author’s POV:
Siang itu, Dongbin dan Henry pergi ke suatu tempat setelah jadwal kuliah mereka selesai.

“Tumben mengajak pergi ke taman?” tanya Henry sambil menyetir mobilnya menuju taman.

“Ada surprise” jawab Dongbin datar.

“Kok jawabnya gitu sih, chagi? Lagi bad mood ya?” tanya Henry yang menyadari perubahan sikap yeojanya itu.

“Sudah sampai. Kajja turun” tukas Dongbin setelah beberapa menit yang lalu diam walau diajak bicara oleh Henry.

Mereka berjalan menuju bangku taman yang diduduki seorang yeoja.

“Chagi, bukankah itu Eun Hee?” tanya Henry masih mengamati apakah itu benar Eun Hee.

“Ne itu Eun Hee” jawab Dongbin datar, sama seperti saat di mobil tadi.

“Dongbin, Henry, kalian sudah sam…” PLAKK!! Sebuah tamparan mengenai pipi kiri Eun Hee.

“Chagi, apa yang kau lakukan pada sahabatmu sendiri?” Henry tak percaya melihat Dongbin menampar Eun Hee.


“Huh! Bahkan aku merasa tidak tahu kalau dia sahabatku sendiri atau bukan” suara Dongbin sedikit bergetar, menahan emosinya.

“A..apa maksudmu, Dongbin?” tanya Eun Hee sambil memegangi pipina yang sakit, akibat tamparan tadi.

“Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau menyuruh Henry berpacaran denganku, padahal dia sudah menjadi pacarmu?! Apa maksudmu?!”

Eun Hee dan Henry, keduanya saling menatap dalam diam.

“Dongbin, aku..”

“Dan sejak kapan kalian backstreet di belakangku? Sejak kapan?”

“Dongbin..”

“Aku tak pernah menyangka kau setega ini padaku, Eun Hee. Aku mengira kau satu-satunya sahabat yang bisa mengerti aku. Tapi apa? Aku malah berpacaran dengan Henry saat aku menyukainya, bahkan saat aku belum mengenalnya!!”

“Chagi, dengarkan..”

“Diam!! Kau juga Henry. Kau ini manusia atau bukan? Menduakan sahabatku –dulu, secara terang-terangan denganku?! Aku benar-benar takjub dengan aktingmu selama ini. daebak, Henry!”

Henry meraih bahu Dongbin, namun hal inni segera ditepis oleh Dongbin.

“Kita berakhir cukup sampai di sini”

Dongbin’s POV:
Aku pergi meninggalkan mereka berdua. Setidaknya aku sudah meluapkan emosiku pada mereka.
Sambil terisak, aku berlari. Entah kemana arahku, aku tidak tahu.

Tiba-tiba ada yang menarikku ke belakang. Aku tidak memperdulikannya, yang ada dipikranku masih mereka berdua –Eun Hee dan Henry- yang selama ini mengelabuiku.

Hujan turun seketika, dingin itu menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merasakannya. Di balik tembok gedung, aku berteduh dari jutaan rintik hujan. Aku terisak dan menangis dalam pelukan seseorang yang begitu hangat. Menangis dalam pelukan Kyuhyun…

Kyuhyun’s POV:
Hujan turun semakin deras. Aku mengajaknya untuk berteduh sementara di apartemenku yang tidak jauh dari taman tadi.

Aku melangkah mendatanginya yang berdiri di luar, menatap langit malam tanpa adanya bintang.

“Pakai handukku. Dan minum ini, setidaknya bisa membuat tubuhmu lebih hangat” ucapku sambil menaunginya handuk biruku. Dia menggigil.

“Dongbin, di luar dingin. Kita masuk saja” ajakku. Namun dia tak bergeming. Suasana jadi hening.

“Kyuhyun, aku benar-benar yeoja bodoh ya?” ucapnya mencairkan suasana yang kian hening.

“Memang. Aku sudah mengatakannya sejak dulu kan” jawabku blak-blakan. Dia tersenyum tipis padaku. Membuatku semakin merasa bersalah.

“Dibodohi selama satu tahun lebih oleh namja dan sahabat sendiri. Munngkin aku adalah yeoja terbodoh di dunia. Hahahha” anehnya, dia bisa tertawa padahal hatinya luka :/

“Kalau tahu seperti inni jadinya, aku akan membiarkanmu memukulinya, Kyuhyun” uapnya sambil memukul pelan lenganku.

“Tanganmu dingin sekali” aku mengusapkan tangannya dengan tanganku. Aku bisa merasakan tangannya sangat dingin, sedingin es di kutub utara (?).

“Hujannya sudah reda. Kyuhyun, antarkan aku pulang. Sekarang!” pintanya sambil menepuk-nepuk bahuku.

“Aish, kau ini..” ini dia. Dia selalu tampak menyebalkan dan terkesan mengganggu, walau sebenarnya dia sedang kesakitan dihujam beribu jarum di hatinya.

Dongbin’s POV:
“MWO?!”
Aku benar-benar tidak percaya. Naik motor? Malam-malam dan dingin seperti ini? kyuhyun, kau benar-benar tega! T—T

“Kuantar naik motor atau tidur denganku di apartemen?” inilah yang membuatku tidak bisa mengelaknya lagi.

“Masukkan tanganmu dalam saku jaketku. Pegangan yang kuat, aku bakal ngebut” ucapnya sambil menghidupkan motornya.

“Kok ngebut? Wae?” sergapku. Jangan-jangan dia hanya ingin mencari kesempatan agar aku memeluknya (>,<)

“Kalau tidak ngebut tidak akan sampai rumah kamu” jawabnya. Tapi kan nggak ngebut-ngebut juga kali, Kyu..

Tanpa menunggu lagi, Kyuhyun memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar membuatku berpegang padanya kalau tidak ingin terbang terbawa angin. Aku menyandarkan kepalaku pada punggungnya yang terbalut jaket kulit. Ini rasanya nyaman, tak seperti apa yang aku bayangkan. aku tidak merasakan dinginnya malam sedikitpun. Justru sebaliknya, aku merasa hangat dan tenang. Dan sejenak aku sadar, aku bisa untuk tidak memikirkan masalah yang terjadi di taman adi. Aku tidak peduli akan itu lagi. Aku hanya merasa nyaman saat menyandarkan diri pada Kyuhyun.

***
“Gamsahamnida, Kyuhyun”

“Cheonma. Jangan terlalu memikirkan apa yang terjadi tadi. Kau tidak boleh terbebani oleh itu. istirahatlah dan segera tidur”

“Haha.. kau sama persis dengan kakekku, Kyu. Mengoceh tanpa henti. Emmb, tidak mampir dulu?”

“Kapan-kapan saja. Aku pulang dulu ne?”

“Be careful, Kyuhyun”

Dia memakai kembali helmnya. Aku bisa melihat dia tersenyum padaku dari balik helm itu. beberapa saat kemudian dia pergi untuk pulang dengan motornya. Gamsahamnida untuk hari ini, Kyuhyun.

***
“Dongbin, kau pulang naik motor dengan Henry?” kakek terkesiap setelah aku mengatakan kalau aku pulang naik motor. Yah, itu karena kali pertamanya aku naik motor.

“Iya, kakek.. naik motor. Tapi bukan sama, Henry” jawabku seadanya.

“Loh? Bukannya Henry itu pacarmu?” tanya kakek. Jujur, sebenarnya aku tidak berminat membahas itu lagi (- - ‘)

“Aku sama Henry sudah END, kek”

“Cepat sekali? Padahal rencananya kakek ingin kalian bertunangan minggu depan” GLEK!!

Seakan biji-biji kacang yang aku makan berhenti di tenggorokkan, aku tersedak. Tindak habis pikir, kakek ingin sekali cucunya segera tunangan?

“Sayangnya itu tidak akan terjadi”

“Kalau begitu, kau akan kakek jodohkan dengan anak rekan kerja oppamu” MWO? DIJODOHKAN?!

“Shireo.. Kakek, mengapa tidak Wonnie dulu saja yang dijodohkan? Dia kan kakak, lebih tua dari Dongbin” ucapku mengelak. Kan tidak lucu kalau seorang adik menikah duluan dari kakaknya.. -___-

“Bahkan kau tidak pernah memanggilku ‘oppa’ kalau aku adalah kakakmu”

Siwon’s POV:
Aku turun ke ruang tengah. Disana terlihat kakek dan Dongbin –yeodongsaengku, sedang membicarakan sesuatu. Membicarakan tentang pertunangan Dongbin.

“Bahkan kau tidak pernah memanggilku ‘oppa’ kalau aku adalah kakakmu” memang, selama dia menjadi dongsaengku, dia belum pernah memanggilku ‘oppa’. Dia malah memanggilku dengan sebutan ‘Wonnie’. Apa itu?

“Wonni, kapan pulang?”

“Tadi sore. Penerbangan dari LA ditunda sebentar. Seharusnya aku sudah sampai tadi siang”

“Buah tangannya?” dia membuka kedua telapak tangannya dan mendekatkannya padaku. Sambil mengerjap beberapa kali. Kutampis tangannya dengan tanganku lalu tertawa.

“Nih, adanya Cuma tangan. Aku di LA untuk sekolah, bukan liburan, Dongbin”

Bibirnya manyun, berlagak sebal. Padahal aku yakin, pasti dia sudah sangat merindukanku xP.

“Wonnie, menurutmu apa masuk akal kalau kakek menjodohkanku duluan?”

“Masuk akal saja”

“Wae? Kau ka nada, mengapa yang dijodohkan pertama bukan kau saja? Aku masih berumur 20 tahun..”

“Oppamu sibuk dengan bisnis dan sekolahnya di LA. Jadi, kau yang didahulukan. Ladies pirst” sahut kakek. Ladies pirst?!

“Tap kakek..”

“Tidak ada tapi dan tape. Kau akan kakek jodohkan”

“Tidak bisakah kakek memberiku pilihan lain?” wajahnya sudah tampak kusut, memelas. Jujur, kasihan juga sih dia masih 20 tahun sudah dijodohkan -___-.

“Emb. Mumpung kakek sedang berbaik hati, kakek akan memberimu dua pilihan”

“Apa itu kek?” tanyaku penasaran.

“Dijodohkan atau adakan audisi perjodohanmu sendiri”

“AUDISI PERJODOHAN?!!” aku terpekik sama seperti Dongbin. WOW :o

TO BE CONTINUE



0 komentar:

Poskan Komentar