Selasa, 07 Agustus 2012

Fanfiction : Be Mine (Chapter 5)


Title           : Be Mine [Chapter 5]
Author      : Nur Halimah (@im304)
Genre       : Romantic, Dramatic, Fiksi, Horor, Konyol, Yadong, Garing (?) *tentukan sendiri!
Rating       : PG +13
Length      : Multi Chapter
Cast           :
·         Cho Kyuhyun – Super Junior
·         Henry – Super Junior
·         Lee Dongbin
·         Lee Eun Hee
·         Shin Min Hwa
·         Other…

Annyeong readerdeul!! Balik nih bawa Chapter 5. Yang kemarin gimana? Semoga ga bikin pusing ya alurnya ^^. Hope you like it :D

Langsung aja ke cerita.. Readers yang baik, tolong yah nanti RCL FF ini.. menerima kritik dan saran.

WARNING!!
Banyak typos, alur ngga jelas, sulit dipahami, bikin pusing, bikin ngantuk, bikin laper, de el el. GA SUKA GA USAH BACA ! YANG SUKA SILAHKAN BACA ^^.. SILENT READERS, GO OUT!!

SAY NO TO PLAGIATISM AND NO BASHING!!

~HAPPY READING~

Previous Story:
Aku terus tersenyum dalam peluk itu. Tak peduli semua orang melirik ke arah kami. Aku akan terus bersamamu, Henry. Selama kita saling menyayangi. Ingatlah itu.

Author’s POV:
Satu tahun sudah dilewati oleh Dongbin dan kawan-kawannya. Kini, dia sudah naik menjadi siswa kelas XII yang akan lulus SMA. Beban semakin berat, karena selain mempersiapkan untuk ujian kelulusan, mereka juga harus mempersiapkan akan ujian masuk universitas.

“Eun Hee, ikut ya belajar bersama di rumahku?” tawar Dongbin pada sobatnya itu.


“Anni, aku lebih suka belajar sendiri daripada belajar kelompok” balas Eun Hee ramah. Dia mengakuinya dengan jujur, karena menurutnya begitu.

“Ayolah, biar seru belajarnya. Belajarnya dibikin santai kok” kata Henry menimpali. Namun Eun Hee hanya tersenyum. Dia benar-benar menolak “aku kan udah bilang, Henry”.

Dongbin memanyunkan bibirnya, tapi apa boleh buat? Dia juga tidak bisa untuk memaksa Eun Hee, dia sendiri sudah tahu karakter Eun Hee yang suka menyendiri.

“Arra.. kalau begitu, Henry, aku tunggu jam delapan nanti ya?” tukas Dongbin.

“Siap nyonya” balas Henry tersenyum.

Henry’s POV:
Pukul 7 lebihnya 50 menit aku sudah tiba di depan rumah Dongbin. Sesuai janji, kami akan belajar bersama karena besoknya akan menghadapi ujian masuk universitas.

“Kajja masuk” Dongbin mempersilakanku masuk. Aku duduk di depan meja yang penuh dengan buku-buku tentang ujian masuk universitas. Rupanya, Dongbin sudah belajar sebelumnya.

“Temannya Dongbin ya?”

Aku menengok pada suara itu. Seorang kakek mengenakan jas hitam itu berdiri tegap di belakangku. Mungkin kakeknya Dongbin.

“Iya, kek. Mau belajar bareng untuk besok. Henry, ini kakekku” Dongbin segera tiba setelah mengambil bukunya. Entah, buku apalagi.

“Yasudah, kakek tinggal dulu. Belajarnya yang santai tapi serius ya” pesan kakek Dongbin kemudian pergi.

Kami belajar lesehan menghadap tumpukan buku-buku tebal di hadapan kami.

“Chagi, kau curang ya?”

“Curang bagaimana?”

“Kau sudah belajar duluan. Lalu aku bagaimana? Ketinggalan dong”

Dongbin tersenyum menanggapi candaanku. “Mianhae. Kau kan sudah pintar, ujian tanpa belajar pun pasti bisa kamu”

Kemudian, kami mulai belajar dengan serius. Sesekali aku melirik ke arahnya yang sedang belajar dengan serius. Lucu. Kadang juga, dia menguap. Mungkin mengantuk karena sudah belajar sebelumnya.

“Kau curi pandang padaku ya?” kaget. dia menyadari kalau aku memandanginya.

“Anni. Aku mau melihat jawabanmu, apa sama dengan jawabanku” jawabku bohong. Kulihat dia memanyunkan bibirnya, sebal.

“Eummb, chagi.. sekarang kabarnya Kyuhyun bagaimana ya?”

“Mollayo. Wae? Kau merindukannya?” aku tersentak mendengar pertanyaannya. Sejarah apa yang menjelaskan aku akan merindukan namja berwatak setan seperti Kyuhyun?

“Anni. Dia sudah kuliah sekarang ya?”

Dia tidak menjawab. Hanya memanyunkan bibirnya (lagi). Mungkin dia tidak suka kalau aku membicarakannya.

“Kau jangan menggodaku, chagi” aku memukul pelan bibirnya dengan bolpoinku.

“Memang apa yang aku lakukan?” tanyanya. Entah berpura-pura tidak tahu atau tidak. Nan molla.

“Kau ingin aku menciummu kan?” balikku bertanya sambil menaikkan alisku dan tersenyum jail. Kulihat dia mala menyembunyikan bibirnya. Membuatku tertawa.

“Sudahlah, ayo belajar lagi” ucapnya mengalihkan suasana yang makin panas ini (?).

10 p.m
Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Saatnya aku pulang.

“Hati-hati chagi. Gomawo ya”

“Nde. Jaljahaeyo, chagi” setelah berpamitan, kujalankan mobilku untuk segera pulang.

*****
Kyuhyun’s POV:
Hari ini, aku ada kuliah. Tapi masih setengah jam lagi. Aku berjalan menuju taman, sekedar mendengarkan music di MP3 Playerku.

Tak disengaja mataku berhenti pada satu titik. Yeoja berambut panjang terurai yang mengenakan jaket jins itu. dia melambaikan tangan padaku. Aku tersadar dari lamunan.

“Kyuhyun!!” teriaknya dan berlari ke arahku yang sedang duduk di bangku taman. Aku hanya menyambutnya dengan senyum tipis.

“hey, tidak bisakah kau memanggilku oppa? Aku ini sunbaemu” ucapku. Dia masih tampak mengatur nafasnya setelah berlari.

“mwo?! Umur kita sama, hanya saja kau yang lulus duluan” sangkalnya. Dia masih seperti dulu. Selalu memprotes, cerewet dan berkesan mengganggu.

“kau sudah lupa padaku?” tanyanya yang duduk di sampingku.

“Anni. Siapa yang akan melupakan yeoja malang yang hampir mati saat masalah datang di camping tahunan waktu itu?” balasku sambil berpura-pura mengingat-ingat waktu yang lalu.

“Jahat. Itu yang membuatmu tak akan melupakanku? Huh!” tukasnya sambil menimpukku dengan buku. Aku hanya tertawa, mengingat kejadian waktu itu. benar-benar takkan terlupakan.

“Bagaimana kabarmu?” ucapku membuka pembicaraan setelah lama tidak bersua (?)

“istimewa!!” balasnya memekik dan berpose seperti Cherry Belle atau apalah terserah (*o*)

“aku juga masih dengan Henry” seakan dia bisa membaca pikiranku, sebelum aku menanyakannya.

“Wow, satu tahun?” pekikku kaget. kaget karena bisa-bisanya yeoja ini dibodohi namjanya sendiri.

“lebih seminggu” timpalnya.

“Lalu sekarang dia lanjut dimana?”

“Disini” what?!

“Oh! Itu dia Henry” aku sudah berfirasat buruk. Aku harus menghindari sikon ini.

“Dongbin, lima menit lagi aku ada kuliah. Aku duluan ne?” tanpa mendengar balasannya, aku segera pergi. Sebelum bertemu dengan Henry.

Dongbin’s POV:
Aku melihat Henry melambaikan tangannya padaku saat aku dan Kyuhyun bertemu setelah beberapa bulan dia lulus duluan. Tidak disangka kami bertemu disini ^^.

“Dongbin, lima menit lagi aku ada kuliah. Aku duluan ne?” ucap Kyuhyun. Mengapa tiba-tiba? Belum sempat aku membalas, dia sudah berjalan pergi.

“Chagi tadi itu siapa?” tanya Henry begitu sampai di depanku.

“Kyuhyun. Tidak disangka aku bertemu dengannya di sini. Kita satu kampus loh” jawabku girang. Entah mengapa. Mungkinkah ini efek kangen setelah berbulan-bulan tidak melihat batang hidung si setan itu?

Henry tampak kaget, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Apa dia masih membenci Kyuhyun? Sebenarnya, sampai saat ini aku belum tahu alasan mengapa Kyuhyun memukul Henry dulu. Pernah aku bertanya langsung pada Kyuhyun, tapi jawabannya selalu menyalahkanku. Lebih tepatnya mengatakan aku bodoh. What’s wrong?

“Ya sudah, kajja jalan bareng” ajaknya sambil menarik tanganku untuk pergi.

Henry, dia memutuskan untuk mengambil bidang Musik. Sedangkan aku mengambil bidang sastra. Aku sendiri bingung, apakah itu adalah keputusan yang benar. Itu menurut rekomendasi dari orang-orang di sekitarku. Oh ya, Eun Hee! Dia mengambil Desain untuk kuliahnya. tapi sekarang aku jadi jarang melihatnya.

Author’s POV:
Dongbin berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya. Lima menit lagi mata kuliahnya akan dimulai. Di saat tergesa-gesanya dia…

“Hey, Lee Dongbin!”

Seorang yeoja meneriakkan nama Dongbin. Dia memanggil Dongbin yang sedang mengejar waktu. Dengan terpaksa Dongbin menoleh ke arah suara itu. betapa kagetnya dia saat mengetahui yeoja yang memanggilnya tadi adalah Shin Min Hwa, musuhnya saat di SMA dulu.

Yang membuat mereka menjadi bermusuhan adalah memperebutkan Henry. Dari awal kelas X, Min Hwa sudah berniat untuk mengejar Henry dan mendapatkan cintanya. Berharap menjadi yeoja Henry. Tapi harapan itu pupus saat mengetahui bahwa Henry berpacaran dengan Dongbin saat camping dulu.

“Ternyata kau kuliah di sini juga? Tak disangka, kita memang ditakdirkan untuk selalu berjumpa ya?” ujar Min Hwa dengan senyum sinis. Dongbin hanya menatap tajam pada Min Hwa.

“Mianhae. Aku tergesa-gesa. Membuang waktu seperti ini merugikan bagiku, aku ada kelas” tanpa menoleh lagi, Dongbin berlari meninggalkan Min Hwa yang tadi menyapanya. Dengan geram, Min Hwa melangkah pergi.

Dongbin’s POV:
Setelah selesai, aku keluar dari kelas dan berniat untuk mencari Henry di kelasnya. Dia mengajak pulang bersama. Nah, itu dia!

“Chagi, jeongmal mianhaeyo. Hari ini kita tidak pulang bersama dulu ne?” ucapnya sedikit tersengal setelah berlari.

“Wae?” tanyaku kecewa. Padahal aku ingin pulang bersama di hari pertama masuk kuliah.

“Aku ada janji dengan temanku untuk mengerjakan tugas dari dosen” jawabnya. Huh! Aku saja tidak diberi tugas kok, dosen Henry terlalu rajin!

“Arra..” balasku lemas.

“yasudah, aku duluan chagi” dan dalam sekejap dia sudah menghilang.

***
Aku menyusuri jalan pulang sendirian. Ya, pulang sendiri tanpa pacar di hari pertama masuk kuliah. Nasib seorang yeojachingu yang mengenaskan!

Sejauh mata memandang, penglihatanku baik-baik saja sebelum aku melihat seorang yeoja berambut blonde dengan hak tinggi 20 cm. huh! Dia lagi, mau apa sih?

“Hey, jangan kabur! Ada yang ingin kutunjukkan padamu” sial! Aku terlambat untuk berlari.

“Menunjukkan apa?” tanyaku to the point.

“Lihat ini, kau pasti terkejut” senyum pahitnya tersungging di wajahnya. Dia menyerahkan Iphone 4 nya padaku. Apa lagi ini?

Kusentuh tombol Play untuk melihat isi video di layar itu. Aku sempat bingung, apa maksud dari video ini. Tapi, lama-lama video yang berdurasi hanya satu menit lebih dua puluh delapan detik ini membuat nafasku tertahan. aku tidak menyangka dia akan setega ini padaku.

“Bagaimana? Tidakkah kau terkejut” tanyanya sambil tersenyum puas. Aku masih memikirkan apa yang ada dalam video tadi.

PRAAAANNG!!!
Reflek saja, aku membanting Iphone milik Min Hwa. Tak peduli yeoja itu berteriak histeris karena Iphone kesayangannya sudah remuk olehku, aku pergi meninggalkannya. Langkahku semakin cepat seiring mengalirnya air mataku yang mulai basah setelah melihat video tadi.

Aku tak menyangka akan seperti ini. KALIAN BENAR-BENAR JAHAT!!

TO BE CONTINUE



0 komentar:

Poskan Komentar