Sabtu, 18 Februari 2012

SEQUEL : He Is Mine | Love The Way You Are (Lee Hyo Hwa's Story)


He Is Mine! _ LOVE THE WAY YOU ARE | SEQUEL

Title                : He Is Mine! _ LOVE THE WAY YOU ARE  [SEQUEL]
Author           : Imach Triple’shawolelf Kyutaewon/Imaah #numpangeksis..
Genre            : romantis, dramatis, yadong, konyol, garing (?) #tentukan sendiri.
Cast               :
   Risky as Lee Hyo Hwa
   Imach as Lee Hye Joon
   Shinbi as Han Soo Ri
   *sensor* as Kim Hye Ri
   All member of B1A4
Rating           : G
Length           : One Shoot

Annyeong readerdeul :D.. jumpa lagi dengan author cengil nan imut ini *huee?*. emmb, kalo dulu kan sequel critanya cast Han Soo Ri (Shinbi) dengan couple’nya Baro, nah sekarang giliran ‘chag’ku Lee Hyo Hwa (Risky) dengan couple’nya... cari tahu sendiri ya, di sini kunci jawabannya ada kok.. Hehehe.. Nih, sequelnya *lempar ke readerdeul  ^^
Di sequel kemarin ada sedikit banget kisahku, kalo ini pikir-pikir ya. Ceritaku nggak, ceritanya Hyo Hwa sedikit kemungkinan *maksud?. Di sini ada kejutan yaitu ‘keket’ a.k.a Hye Ri kembali beraksi. Nyebeliiiinn *lu kenapa thor?

Langsung aja ke cerita.. Readers yang baik, tolong yah nanti RCL FF ini.. menerima kritik dan saran.

WARNING!!
Banyak typos, alur ngga jelas, sulit dipahami, bikin pusing, bikin ngantuk, bikin laper, de el el. GA SUKA GA USAH BACA ! YANG SUKA SILAHKAN BACA ^^.. SILENT READERS, GO OUT!!

SAY NO TO PLAGIATISM AND NO BASHING!!

~HAPPY READING~

PROLOG :
Mungkin kita diciptakan di dunia ini untuk saling melengkapi.. I LOVE YOU JUST THE WAY YOU ARE ^ ^

ALL POINT OF VIEW : LEE HYO HWA
Hari ini aku dan Hye Joon pergi ke rumah Han Soo Ri. Sebenarnya kita punya ‘planning’ buat belajar bareng, eh yang terjadi malah main-main plus bergosip :p.
“Hyo Hwa, tidakkah kau kesepian? Palliwa, cari namjachingu sana!” kata Soo Ri di tengah percakapan kami.
“Buat apa punya namjachingu saat sekolah? Seharusnya kita belajar dulu dengan benar, baru cari gebetan” ucapku sok bijaksana *hehe*.
Yah, di antara kami bertiga memang hanya aku yang belum punya namjachingu. Hye Joon sudah dengan Sandeul dan Soo Ri sudah bersama dengan Baro. Sedangkan aku? Eits, jangan kira aku tak punya pasangan ya. Aku masih selalu setia dengan buku matematikaku yang super tebal. Hebat bukan? Oh anni, mungkin lebih tepatnya benar-benar MENYEDIHKAN !
“Tidakkah kau menyukai salah seorang namja di sekolah kita, mungkin?” tanya Hye Joon.
“Anni. Aku hanya mencintai buku tebal Matematikaku ‘seorang’” seringaiku. Tapi aku ragu, apakah bisa kata ‘seorang’ pantas untuk sebutan buku Matematika yang begitu menyeramkan? -__-
“Andwae! Kau pasti jatuh cinta pada seseorang. Palli, katakan siapa?” tukas Soo Ri sambil menggoyang tubuhku *?*.
Aku berpikir, siapa orang yang aku sukai di sekolah ini? Emmm...
“Jinyoung oppa..” ucapku pelan tanpa sadar. Kulihat mereka saling memandang. Wae?!
“Lalu kenapa kau tidak mencoba untuk mendapatkannya?” tanya Hye Joon.
“Aku tidak PeDe, apa dia mau menerimaku seperti ini wujudnya?” keluhku sambil menggembungkan kedua pipiku, mungkin aku semakin terlihat menggemaskan ^^ #ngek!
Tidak belajar, kami malah mengobrol bagaimana caranya aku bisa mendapatkan Jinyoung. Obrolan kami semakin panas hingga akhirnya kami memiliki misi untuk membawa Jinyoung ke tanganku :D #mana cukup? *plak*

***
Di sekolah…
Seperti hari-hari biasanya, Sandeul dan Baro datang ke kelas untuk bertemu dengan yeoja mereka, siapa lagi kalau bukan Hye Joon dan Soo Ri. Tapi bedanya Jinyoung juga ikut ke sini. Dalam rangka apa dia kesini?
“Ini bagian dari rencana kita, kau harus berhasil” bisik Soo Ri. Huh, dasar. Ternyata ini rencananya.
Aku berpikir, apa yang harus kulakukan agar aku bisa berjalan ke arahnya –dia sedang berdiri di pintu, seperti satpam *eh?-. TRIIING!
“Aku buang sampah dulu ye?” pamitku sambil mengerling ke arah kedua temanku. Yeah, this is my plan !
Aku berjalan keluar pintu kelas untuk berpura-pura membuang sampah (dan pada kenyataannya memang benar). Dan pastilah aku harus melewati Jinyoung yang sedang bersandar di pinggir pintu.
“Permisi oppa” ucapku pelan. Dia segera menyingkir dan bersikap ‘sangat datar’. Tapi, tak apalah, ini sudah cukup membuatku senang untuk bisa melihatnya.
Aku kembali masuk dan duduk di bangku kesayanganku. Sembari menanti istirahat selesai, aku memandang Jinyoung lekat-lekat walau dari belakang. Dia begitu dingin..

***
Sudah satu semester kiranya aku menjalankan tak-tik ku untuk mendapatakan Jinyoung. Alhasil? Sepertinya dia sudah tahu semua, tapi aku tidak mendapatkannya >.<. dia selalu mengacuhkanku dan menganggapku tak ada *makhluk halus? Hii* :p
“Hyo Hwa, kau dipanggil Miss Jung ke ruang seni” salah seorang temanku memberitahu info untukku *jangan dikira temanku hanya Hye Joon dan Soo Ri saja ye? ^^.
“Nde, gomawo” balasku berterimakasih. Aku pun segera pergi ke ruang seni untuk bertemu dengan Miss Jung, Guru Musikku.

***
“Ne, arraseo” ucapku mengerti. Miss Jung memberitahuku bahwa ada lomba menyanyi ‘duet’ yang diadakan di sekolahku (SMA se-Seoul) dalam rangka memperingati hari jadinya kota Seoul (?).
“Ne, pasangan duetmu akan segera kesini” kata Miss Jung. Nuguya, pasangan duetku?
“Annyeong, mianhae telat sedikit” seorang namja tiba, dan membungkuk ke arah Miss Jung.
“Jinyoung oppa?” pekikku kaget. Yak, kenapa dia kesini?
“Ne, Jinyoung yang akan jadi pasangan duetmu, Hyo Hwa. Bersiaplah” tukas Miss Jung ringan.
“Mwo?!” aku dan Jinyoung terpekik mendengarnya. Apa aku tidak salah dengar? Jinyoung jadi pasangan duetku untuk mewakili sekolah? Wow!
“Wae? Karena kurasa kalian lebih cocok daripada yang lain” kata Miss Jung. Jinja? Ah, gomawo ^^ *plak! PEDE
“Aissh, apa dia bisa bernyanyi dengan baik? Tidakkah ada yang lebih baik daripada si yeoja kentang ini?” protes Jinyoung. MWO?! KENTANG? Kau meremehkanku!?
“Mwoya?! Kau meremehkan suaraku? Hah, kau pikir suaramu juga lebih bagus? Hissh” tukasku sebal. Hah, kenapa masih ada juga manusia seperti itu di dunia ini?
“Ayoyo... jangan bertengkar. Kalian ini sudah dipilih ‘the best from the best to the best’” ucap Miss Jung memisah pertengkaran kami. Kami terdiam.
“Besok pukul 3 sore di sini, kita akan latihan. Kita latihan 3 kali seminggu, arra?” kata Miss Jung.
“Arraseo” jawabku dan Jinyoung bersamaan. Kami pun segera pulang dan mempersiapkan segala hal yang sekiranya dibutuhkan untuk latihan besok.

***
Saat latihan...
“Bisakah nadamu tidak terlalu tinggi? Kau harus menyeimbangi suara Hyo Hwa, Jinyoung” suara Miss Jung menggetarkan ruang musik. Haha, rasakan itu Jinyoung !
“Nde..” jawab Jinyoung dengan datarnya. Apa kau tidak merasa kau melakukan kesalahan, ha?
Sudah satu minggu aku dan Jinyoung selalu bertatap muka saat latihan. Jadi, aku mulai terbiasa melihat seluk beluk wajahnya (?), yang memang tampan itu. Tapi, kenapa wajahnya tampan tapi pemiliknya terlalu jutek ya? -__-
“Cukup. Latihan selesai, tapi jangan pulang dulu. Kalian boleh istirahat sebentar di sana” kata Miss Jung sambil menunjuk ke arah dua bangku di bawah pohon. Kurasa latihan cukup sekian untuk hari ini, karena persentase suaraku tinggal 45% (?).
Saat aku mengemasi barangku, Miss Jung datang dengan membawa dua minuman kaleng. Aku menerimanya dengan tatapan bingung, karena tidak biasanya Miss Jung begitu peduli pada muridnya.
“Berikan satu pada Jinyoung, kurasa dia kesal karena kumarahi terus” pesan Miss Jung. Oalaah, itu tho yang bikin Miss Jung peduli pada ‘kami’? aigoo –‘
Aku berjalan menuju Jinyoung yang bersandar di bawah pohon. Dan tentunya dengan tujuan memberi minuman itu padanya.
“Terima ini, dari Miss Jung” ucapku seraya menyerahkannya pada Jinyoung. Dia menerimanya ‘tanpa mengatakan sepatah kata’. Menyebalkan bukan?
Tanpa pikir panjang, aku duduk di sampingnya sambil menikmati minuman gratis dari Miss Jung *hehhe*.
“Kau benar-benar menyukaiku?” ucap Jinyoung tiba-tiba. DEG! Apa yang harus kulakukan? Kalau aku berbohong… sama saja aku melukai hatiku sendiri. Tapi kalau jujur… aku harus siap pakai cadar kalau bertemu dengannya!
“Ng.. Ne, wae?” jawabku gugup. Oh God, give me the best way!
“Apa yang bisa kau berikan untukku?” tanya Jinyoung.
“emmb, walaupun bisa dibilang aku sedikit ‘gembul’, tapi aku memiliki sejuta kelebihan di balik kegembulanku kok oppa” jawabku asal.
“Mwoya?! Sejuta kelebihan berat badan maksudmu?” tukas Jinyoung. Hey, ini namanya melecehkan aku ! *peace chag, yang bilang dirimu sendiri lho :p*
“Anniya! Apa kau tak menyadari aku memiliki suara emas di balik kegembulanku ini? Tidak seperti kau, yang hanya bisa mengkritik orang lain. Lihat dirimu baik-baik, suaramu tak lebih bagus dariku” protesku tidak terima. Apa dia pikir dia makhluk sempurna?
Kulihat ekspresinya, hanya diam. Dia beranjak pergi meninggalkanku kemudian berkata “Kau bukan tipeku, Hyo Hwa”.. Hiks Hikss T_T

***
“Dia berkata seperti itu padamu? Apa dia gila?” pekik Hye Joon saat mendengar ceritaku tentang apa yang terjadi kemarin.
“Dia itu menyebalkan sekali bukan? Ok, aku akui dia rupawan. Tapi coba pandang lagi, apa suaranya seindah rupanya? Hah, dasar cecunguk! >.<” kataku geram. Cecunguk, itulah panggilan ‘sayang’ku pada seorang yang begitu dingin, Jinyoung.
“Kau tega sekali memanggil orang yang kau sayangi dengan kata ‘cecunguk’? bukankah itu terlalu jelek?” tukas Soo Ri. Yak! Lalu aku harus memanggilnya apa?
“Up to me.. itu panggilan sayangku padanya. Hye Joon saja memanggil namjanya ‘koala’. Ah, kurasa hanya kau dan Baro yang paling akur ya?” ucapku menyindir. Memang, Soo Ri tidak pernah memberi nama yang buruk untuk namjanya, Baro.

Saat aku berada di pertigaan jalan, aku melihat ada tiga orang namja yang menghajar seorang siwa SMA Paran yang aku kenal, JINYOUNG!
Tanpa menunggu lampu hijau menyala, aku segera lari ke arah mereka untuk menyelamatkan ‘cecunguk’ku.
“Kyaaaaaaa!!” kukeluarkan jurus karateku saat menyerang mereka bertiga. 1 lawan 3 dan aku berhasil membuat mereka K.O kemudian lari terbirit-birit untuk cari aman –mungkin mereka takut aku akan mematahkan leher mereka- *sadis loe mbul :p*
Setelah aku berhasil memberi pelajaran kepada tiga namja pabo itu, aku segera menghampiri Jinyoung yang mendapati luka pada pelipis dan bibirnya yang berdarah.
“Kau ini pabo atau apa? Kenapa kau tidak melindungi dirimu sendiri? Kau ingin mengoleksi luka di wajahmu, ha?” ucapku menyalahkannya. Tidak salah kan kalau aku menyalahkannya?
“Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal ini” balasnya lemah.
“Mwo?! Bukankah namja sempurna sepertimu seharusnya bisa melakukan semuanya? Hah, melindungi diri sendiri saja tak bisa. Memalukan” ucapku lagi. Dan lagi-lagi dia hanya diam.
Kuambil kapas untuk mengobati luka di bibirnya. Oh Tuhan, kuharap aku bisa melakukannya..bibirnya mencoba menggodaku *ups! Hehe*
Tiba-tiba dia menghentikan tanganku, kemudian menatapku lekat-lekat. Hentikan, Jinyoung apa kau ingin membunuhku dengan tatapanmu itu?
“Kenapa kau masih mengejarku? Bukankah aku sudah menolakmu?” tanyanya. Mwo?!
“Kau pikir aku melakukan ini agar kau berubah pikiran untuk menerimaku? Hah, sudah sombong, GR an lagi. Ckck” seringaiku. Kau pikir aku apa ha?
“Lalu, kenapa kau menyelamatkanku dari mereka-mereka?” tanyanya membuat ku risih. Kau ini banyak tanya ya? -__-
“Apa aku harus diam saja melihat sunbae di sekolahku dihajar habis-habisan? Aku masih tahu diri, oppa. Walau aku menyadari orang itu adalah kau” jawabku kemudian pergi meninggalkannya. Aku tak mau menghabiskan waktuku hanya untuk berdebat dengannya.
“Lain kali, tolong jaga dirimu baik-baik, oppa”…

***
Kurasa waktu berjalan begitu cepatnya. Sepertinya baru kemarin aku dipilih untuk mengikuti lomba, hari ini aku sudah memakai seragam kebanggaan SMA ku, berdampingan dengan Jinyoung untuk bernyanyi di depan guru-guru dan para pelajar se-Seoul.
Kuakui aku sedikit gugup. Bagaimana tidak? Aku dan Jinyoung akan dilihat beribu-ribu orang. Satu pintaku untukmu Tuhan : kuharap aku tidak cegukan saat tampil menyanyi nanti. *pletakkk!
“Fighting, Hyo Hwa!” teriak kedua sahabatku, menyemangatiku. Terimakasih Tuhan, kau telah mengirimkan mereka berdua untuk memberi semangat hidupku ^^ *ceileh, lebay amat*
“Semangat, bro! Kau dan Hyo Hwa adalah pasangan serasi” tukas Gongchan. Jinyoung hanya membalasnya dengan tersenyum. Gomawo oppa, tapi itu tadi pujian atau malah sindiran ye? *bling*
Selanjutnya, kita saksikan penampilan perwakilan dari SMA Paran, Lee Hyo Hwa dan Jung Jinyoung”.
Mendengar itu, Jinyoung menarik tanganku untuk segera tampil berduet dengannya. Kuharap kita bisa melakukannya dengan baik, Jinyoung..
______
Lagu : Maybe – Suzy ft Soo Hyun

chagaun gaseumi eoneusae jogeumssik
noga naeryeonna bwa niga deureowasseo
geurigo nado mollae nae gaseumeul chaewosseo

eonjenbuteoinga jibe doraomyeon
neoreul tteoolligo inneun nae moseubeul
bomyeonseo nae mam soge niga inneun geol arasseo

Maybe you’re the one
Maybe eojjeomyeon
eojjeomyeon niga
naega gidarin banjjogingeonji

Maybe it is true
eonjena neomu
gakkai isseoseo mollasseonnabwa
Baby I’m in love with you

cheoeumen mollasseo naega neol ireoke
tteoollige doel jul saranghage doel jul
ni mamdo jebal ireon nae maeumgwa gatgireul

Maybe you’re the one
Maybe eojjeomyeon
eojjeomyeon niga
naega gidarin banjjogingeonji

Maybe it is true
eonjena neomu
gakkai isseoseo mollasseonnabwa
Baby I’m in love with you

neomu neutjin anhatgil
ijeya kkaedareun nae mam badajugil
neutge aratjiman ijeya aratjiman
i maeumeun jeoldae heundeulliji anha
……….
_____
Akhirnya aku, oh tidak maksudku kami, bisa melakukannya dengan baik. Tapi aku tidak menyangka kami bisa saling tersenyum tulus di atas panggung tadi, mungkin itu senyum reflek karena menjiwai lagu. Walau begitu, aku cukup senang bisa bertukar senyum dengan Jinyoung, cecungukku tersayang ^^.
“Good Job! Kalian benar-benar pasangan yang begitu sempurna. Choa!” kata Miss Jung, memuji penampilan kami tadi. Ah, pasangan yang begitu sempurana? Jinjaeyo?
“Kami memang pasangan yang sempurna. Gamsahamnida” ucap Jinyoung. Eh? Aku tidak salah dengar kan tadi?
Kemudian Jinyoung memandangku dengan sedikit senyum yang tidak aku mengerti apa maksudnya. Oh Jinyoung, tolong jangan lakukan hal itu di sini.

***
“Platipus sayang, kajja kita pulang” tukas Sandeul mengajak Hye Joon pulang.
“Hyo Hwa, be careful on the way. Look around of you, okay?” pesan Hye Joon sebelum berpisah denganku.
“Nde, nde. Kau ini tidak biasanya terlalu khawatir padaku. Hhaa, I will be OK” balasku padanya.
“Kau harus hati-hati, yakso?” kata Hye Joon sambil memelukku. Aish, bocah ini kesambet apa sih? Aneh banget..
“Okay.. cepat pulang, namjamu sudah menunggumu” ucapku padanya kemudian pergi.
Tidak seperti biasanya, hari ini aku ingin pulang jalan kaki saja karena hari belum terlalu panas. Kulihat kanan dan kiri sebelum menyeberang. Sekirannya sudah sepi, aku segera menyeberang. Tak disangka, aku menginjak permen karet sehingga aku sulit mengangkat sepatuku dan segera berjalan. Tiba-tiba kulihat mobil Benz S-Class melintas ke arahku.dengan kecepatan tinggi. OMO!! Selamatkan aku, Tuhan. Aku belum berpamitan dengan eomma-appaku.
BRUUUKKKK!!!

***
Kubuka kedua mataku perlahan. Syukurlah, aku masih hidup. Kulihat sekelilingku sudah banyak orang yang mengerumuni. Kulihat juga seorang yeoja menghadap dua orang polisi. Siapa yeoja itu? Oh ya, siapa yang telah menyelamatkanku?
“Jinyoung oppa!!” aku terpekik kaget. Ya, Jinyoung yang telah menyelamatkanku. Aku tak sanggup melihat keadaannya sekarang.
“Apa yang terjadi? Kenapa aku baik-baik saja sedangkan kau bersimbah darah?” ucapku sambil menangis. Aku merasa bersalah karena sudah membuat Jinyoung begini.

Di rumah sakit…
Aku duduk termenung di kursi tunggu. Dokter berkata bahwa Jinyoung mengalami pendarahan otak. Memang belum begitu serius, tapi kalau dibiarkan terlalu lama bisa berakibat fatal *bahasa loe kaya dokter gadungan aja thor.. –‘*, Jadi untuk sementara, Jinyoung dirawat di rumah sakit dulu.
“Oppa, mianhae. Aku yang membuatmu jadi begini” ucapku pelan di luar pintu.

***
“Maka dari itu aku sangat khawatir padamu. Aku takut terjadi apa-apa padamu, Hwa” kata Hye Joon.
Sedikit sesak memang saat aku mendengar cerita Hye Joon. Dia bilang, yang merencanakan semua ini adalah Kim Hye Ri.

Flashback On + author’s pov
Saat semua sudah keluar sekolah, Hye Joon masih tetap di dalam sekolah.
“Chagi, aku mau ke kamar mandi dulu ne?” pamit Hye Joon pada Sandeul. Kemudian dia pergi ke kamar mandi.
“Semua yang aku suka, kalian ambil. Ini tidak adil! Di saat aku menyukai Sandeul, kenapa kau mengambilnya dariku, Hye Joon?! Lihat dirimu, kau tidak lebih baik dariku!” ucap seseorang dari luar. Hye Joon yang mendengarnya dari dalam hanya terdiam.
“Han Soo Ri.. apa hebatnya dirimu? Bagaimana bisa seorang bintang bisa dimiliki seorang kutu buku yang sok sepertimu? Kenapa kau begitu mudah membuatnya jatuh cinta padamu?! Menyebalkan kau!” ucap orang itu lagi. Hye Joon masih terdiam saat orang itu menyebut nama temannya.
“Dan terakhir, kau Lee Hyo Hwa. Kenapa ini bisa terjadi? Kau tidak lebih baik dariku, seorang Kim Hye Ri jauh lebih baik darimu. Tapi kenapa Jinyoung bisa menyukaimu, memilihmu?! Ini tidak adil! Aku harus membalasmu, lihat saja nanti saat pulang, Lee Hyo Hwa!” DEG! Tak bisa dipercaya orang itu adalah Kim Hyeri. Apa yang dia rencanakan pada temanku?
Flashback Off

“Kurasa dia bukan manusia. Dia benar-benar gila!” celetuk Soo Ri. Yak, benar kau. Dia bukan manusia. Dia hanya orang-orangan untuk menakuti burung-burung di sawah (?).
Aku pergi ke kelas Hye Ri, tentu saja untuk meminta penjelasan.
“Apa maksud balas dendam itu? Kau yang membuat Jinyoung tertidur lemah di ranjang rumah sakit itu! Kau hampir saja membunuhnya, Hye Ri!!” ucapku keras sambil menggebrak mejanya.
“Mwo?! Seharusnya kutanya duluan, kenapa kau, kau dan kau merebut orang yang aku sukai? Bukankah ini tidak adil?!” protes Hye Ri.
PLAAKK!! Satu tamparan melayang ke pipi kanannya.
“Awas saja kau, kalau terjadi apa-apa pada Jinyoung. Kau pasti akan mati!” seringaiku penuh esmoni, eh, emosi :p
“Hah, gayamu seperti yeojanya Jinyoung saja. Kau ini siapanya memang? Yeojanya saja bukan!” protes yeoja tengik itu lagi.
Kali ini aku tak bisa menyeringainya lagi, aku hanya diam terpaku.
“Mianhae, kami memanggil saudara Kim Hye Ri untuk dimintai keterangan ke kantor polisi” dua orang polisi datang untuk mengangkut Hye Ri (?) ke kantor polisi.
“Nde, silahkan pak. Dengan senang hati dan penuh rasa ikhlas, silahkan bawa dia pergi” ucap Soo Ri.

***
Ada kabar bahwa Jinyoung sudah sadar, maka aku segera menjenguknya ke rumah sakit. Semoga dia masih ingat aku (?)
“Hyo Hwa…” ucapnya saat aku membuka pintu dan masuk. Dia masih tampak lemah.
“Hey kau.. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, jaga dan lindungi dirimu? Kenapa kau tidak mendengarkanku? Dan kenapa kau malah menyelamatkan orang lain? Aku tahu kau yang paling sempurna, tapi kau juga punya kelemahan” aku berteriak miris (?) dihadapan Jinyoung yang terbaring lemah. Aku emosi.
“Wae? Bukannya berterimakasih malah memarahiku, kau ini lucu sekali” tukasnya sambil tertawa lemah. Kau masih bisa tertawa?
“Kau tak tahu betapa bersalahnya aku kan oppa? Kau tak tahu betapa khawatirnya aku kan? Kau sudah membuatku benar-benar gila, kau puas?” aku kembali mengoceh plus menangis. Dramatis sekali -_-
“Ayoyo, jangan menangis. Gwaenchanayo, ini balasan dariku karena kau sudah menyelamatkanku dulu. Gomawo” kata Jinyoung sambil memegang tanganku. Oppa?
Aku ternganga, Jinyoung memegang tanganku? Apa aku bermimpi? Bahkan dulu saja melihat tampangku dia tak sudi, kesambet apa dia?
“Mwoya?” ucap Jinyoung membuyarkan lamunanku.
“A-anni.. emb, oppa kapan pulang?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Besok pagi.. oh ya, bagaimana dengan Hye Ri? Apa dia ditahan polisi?” Jinyoung malah menanyakan si tengik itu, huft!
“Kenapa kau malah menanyakan yeoja yang telah membuatmu begini? Menyebalkan sekali >,<” tukasku dengan ketus. Hey, apa aku cemburu?
“Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan orang yang ingin mencelakakan dirimu? Dia harus dipenjara, aku tidak ingin kau diganggu dia lagi.” Aku hanya diam saat Jinyoung berkata seperti itu. Kenapa dia jadi aneh setelah insiden itu? -__-
“hmm, baiklah kalau begitu.. kau harus banyak istirahat oppa, kau harus cepat sembuh ye?” kataku basa-basi.
“Siap bos kentang” kata Jinyoung polos tanpa dosa. Beraninya dia kembali memanggilku ‘kentang’? kalau dia masih waras, aku pasti akan mematahkan kakinya! (oh tidak, aku tidak tega :p)
“Aiissh, sudahlah. Tidurlah oppa, aku pulang dulu ne. Kau harus segera masuk sekolah besok, arraseo?” ucapku padanya. Dia hanya berkedip, mungkin itu jawaban ‘iya’.
Aku menyelimutinya agar tidak kedinginan saat tidur. Kemudian aku segera pulang.

***
Setelah pulih, Jinyoung kembali bertemu aku di sekolah tentunya. Entah kesambet apa, aku dan dia jadi sangat akrab, tidak seperti dulu yang saling mengejek masing-masing kelemahan. Bahkan orang lain mengira kalau aku dan Jinyoung berpacaran, ada-ada aja.
“Kentang, nanti pulang bareng aku ye?” tiba-tiba Jinyoung sudah berdiri di belakangku.
“Shireo.. aku mau pulang sendiri, bosen pulang bareng kamu terus” kataku pura-pura menolak.
“Ayolah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku ajak kau ke danau ye?” ucap Jinyoung memohon.
“Ahh, nde. Tapi jangan lama-lama ne? Tugasku masih banyak” jawabku pada akhirnya. Yah, kelemahanku saat melihat Jinyoung memelas padaku, aku jadi iba *eh?

***
Sesuai dengan apa yang dikatakan Jinyoung, kami pergi untuk berbicara dulu di danau. Aku tak tahu apa yang ingin dia bicarakan padaku, apa dia akan menembakku agar jadi yeojanya? Kita lihat,,,
“Hyo Hwa, aku ingin bicara”
“Katakan saja, wae?”
“Besok jam 10 pagi aku, akan pergi ke US untuk mengambil beasiswa. Kemungkinan aku akan tinggal disana lama”
DEG!
“ttapi, i-ini cepat sekali oppa? Ujian saja belum, ke-kenapa secepat itu?”
“Ini ketetapannya, Hyo Hwa. Appa dan eomma menyuruhku untuk segera ke US agar bisa mendapat beasiswa bersekolah di sana”
“Berapa lama?”
“Satu tahun”
“Lalu?”
“Setelah satu tahun disana, aku akan kembali ke Seoul. Dan aku ingin katakan padamu, setiba di Seoul nanti, kau adalah orang pertama yang akan aku temui. Jadi, tunggu aku satu tahun dulu ye?”
Aku tak lagi menjawab, pikiranku kosong. Kenapa secepat ini? Tapi apalah buat, kalau ini yang baik untuk dia, ya sudah jalani saja.
Tanpa berkata sepatah apapun, aku langsung pergi meninggalkannya. Aku butuh waktu untuk sendiri.

***
@Incheon Airport
Ini sudah pukul 9:55, jangan sampai aku terlambat.
Aku berlari ke seluruh penjuru di bandara. Aku mencari satu titik dimana ada seseorang yang ingin aku temui sebelum dia pergi. Ya, Jung Jinyoung.
Aku terus menelusuri seluruh tempat di bandara hingga akhirnya aku menemukannya.
“Jinyoung oppa!” teriakku memanggilnya, Dia menoleh ke arahku, aku langsung saja berlari ke arahnya
“Kukira kau marah padaku” ucapnya.
“Ne, aku marah. Oppa, kau harus jaga dirimu baik-baik disana ne? Awas kalau kau kembali ke Seoul dengan penuh luka, aku tak sudi bertemu denganmu lagi” pesanku padanya.
“Okelah bisa diatur, kentang.. kau juga harus ingat dengan pesanku. Tunggu aku satu tahun lagi ne?” kata Jinyoung sambil mencubit kedua pipi chabiku.
“Arraseo.. Be careful oppa” kataku sambil melambaikan tangan ke Jinyoung. Dia membalasnya dengan mengacungkan ibu jarinya ke arahku.
Pesawat pun segera lepas landas ke US. Jinyoung oppa, be careful at there..

***

Satu tahun kemudian, di sekolah..
“Isshh, kenapa waktu berjalan cepat sekali ye? Sepertinya baru kemarin kita masuk sekolah ini, eh seminggu lagi bakal perang sama kertas ujian –‘.”
Hari ini, seluruh siswa SMA se-Seoul bergalau ria. Bagaimana tidak? Tinggal 7 hari lagi mereka akan menghadapi ujian nasional, termasuk aku. Ujiannya sih nggak masalah, tapi cari universitasnya itu lho, masih rancu :o
“Lalu bagaimana ini?” tanya Han Soo Ri panik. Ya ampun –‘
“Ya belajarlah.. masa mau pacaran terus” balas Hye Joon. Yah, mereka masih langgeng sampai sekarang lho. Cinta mati banget ya? ^^
“Eh, bagaimana kabar Jinyoung? Apa dia belum pulang dari US?” tanya Hye Joon tiba-tiba. Ah, apa perlu aku menjawabnya? :(
“Kurasa dia sudah lupa padaku. Buktinya dia bilang satu tahun setelah di US dia akan kembali ke Seoul untuk bertemu denganku. Huh, hanya bisa memberi harapan kosong” ocehku kesal. Jinyoung benar-benar menyebalkan!
“Hyo Hwa.. ini ada bunga dari fansmu lagi. Di dalamnya ada surat, bacalah” Baro datang sambil membawa paket bunga mawar putih dengan surat kecil di dalamnya. Tidak biasanya...
“Wah, kau jadi sering dapat bunga dari fansmu yang bejubel itu ya?” celetuk Han Soo Ri.
“Yah, siapa dulu yang mengubahnya menjadi seperti ini? Kita kan?” ucap Hye Joon sambil mengerling pada Soo Ri.
“Arraseo, kalian berdua yang telah mengubahku menjadi bidadari *huee*. Puas?” balasku sambil mencubit kedua temanku.
Tanpa lama, aku membaca surat di dalamnya.

____

To : Lee Hyo Hwa

Cepat datang ke taman sekolah, aku tunggu 7 menit dari sekarang. Atau kau akan menyesal selamanya !

From : Your secret admire
____

Siapa pula ini? Penggemar misterius, tak biasanya ada fans seperti ini. Tapi karena paksaan dari isi surat itu, maka aku segera pergi menuju taman.
“Aku pergi dulu ye? Bye!” pamitku pada semua yang bersamaku tadi. Tanpa menunggu ijin dari mereka, aku segera berlari ke taman.

@Taman Sekolah..
Aku mencari ‘my secret admire’ di seluruh sudut taman. Dimana sih dia?
“Kau Lee Hyo Hwa?” aku menoleh ke arah suara itu.
“Nde. Nuguya?” tanyaku pada namja itu. Dia terlihat cengo melihatku, wae?
Tiba-tiba dia memelukku. Hey!?
“Kau Lee Hyo Hwa? Jinjaeyo? Oh kentangku! Bogoshipoyo” ucap namja itu. Kentang? DEG!
“Jin-jinyoung oppa?” ungkapku tak percaya.
“Yak, sekarang kau ingat aku?! Kau kurusan saja ne? Tapi.. aku suka” kata Jinyoung. Lantas aku cubit lengannya, dasar namja nakal!
Kupandang Jinyoung dalam-dalam. Aku masih tak percaya kalau dia Jinyoung, cecungukku tercinta. Dia memakai kaus kerah warna putih, celana jins hitam panjang, dan topi biru *emang mau main bassball?*.
“Mwoya? Kau kaget aku tambah kyeopta?!” kata Jinyoung dengan pedenya. Hah, masih sama seperti dulu, pede tingkat tingginya belum juga hilang.
“Kenapa kau baru menemuiku? Ini sudah satu tahun lebih 3 hari. Wae?” protesku.
“Aku harus mempersiapkan mentalku untuk...” ucap Jinyoung mengambang.
“Untuk apa?” tanyaku penasaran. Dia berpikir lalu menengok ke arahku.
“Untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu, Lee Hyo Hwa” jawab Jinyoung sambil berlutut padaku. BLAM! aku tidak bermimpi kan?
“Opp-ppah? Jinjaeyo?” tanyaku tak percaya.
“Hyo Hwa, apa kau masih mencintaiku?” tanya Jinyoung penuh harap.
“N-ne.. nado saranghae, oppa” jawabku sambil mencoba untuk menahan tangis haruku. Aku tidak mau diejek ‘cengeng’.
Dengan sigap, Jinyoung memelukku erat.
“Eh, Pelan-pelan oppa, aku bisa kehabisan nafas” pintaku padanya.
“Hyo Hwa, ayo kita menikah!”
“Eh?!!!??”
CHU~

END

Wawawawawaa.. teng teng teng.. gimana nih endingnya? Ancur nggak? Hehehhe.. *puas loe, ris?* :p
Ya, itu sequel terakhir dari “He is Mine”. Paling bagus ceritanya siapa reader? Lee Hye Joon, Han Soo Ri atau Lee Hyo Hwa? Ayo divoting!! *plakk!!

GOMAWO kepada READERS yang setia mau membaca Fanfiction gajeku ini. MIAN ya kalo ada salah kata, typos maupun kelebaian bahasa (alias Lebey). Hehe…
Yesungdahlah kalo begitu.. AKU TUNGGU RCL NYA YA :)

Salam IMUT buat semua ya..

GOODBYE BABY GOODBYE :)

0 komentar:

Poskan Komentar