Minggu, 10 Juni 2012

Be Mine (Chapter 2)



Title           : Be Mine [Chapter 2]
Author      : Nur Halimah (@im304)
Genre       : Romantic, Dramatic, Fiksi, Horor, Konyol, Yadong, Garing (?) *tentukan sendiri!
Rating       : PG +13
Length      : Multi Chapter
Cast           :
·         Cho Kyuhyun – Super Junior
·         Henry – Super Junior
·         Lee Dongbin
·         Lee Eun Hee
·         Other…

Annyeong readerdeul!! Balik nih bawa Chapter 2. Yang kemarin gimana? Semoga ga bikin pusing ya alurnya ^^.
Oh ya, sekedar mengingatkan saja. Di chap 2 ini ada adegan ya, yah, sedikit yadong aneh gimana gitu. Jadi buat yang takut otaknya kena virus yadong, waspada saja ya. Tapi tenang, belum mencapai stadium tingkat tinggi kok yadongnya *eh?

Langsung aja ke cerita.. Readers yang baik, tolong yah nanti RCL FF ini.. menerima kritik dan saran.

WARNING!!
Banyak typos, alur ngga jelas, sulit dipahami, bikin pusing, bikin ngantuk, bikin laper, de el el. GA SUKA GA USAH BACA ! YANG SUKA SILAHKAN BACA ^^.. SILENT READERS, GO OUT!!

SAY NO TO PLAGIATISM AND NO BASHING!!

~HAPPY READING~

Previous Story :
“…Hey, bukankah dia sudah pergi dari tadi?  Masa bodoh! Yang penting tendaku sudah jadi dan aku bisa beristirahat untuk sementara waktu.”


Author’s POV:
Kegiatan camping hari itu sudah berjalan selama tiga hari. Dengan terpaksa, memang, Dongbin harus mengikutinya dengan hati sedikit ikhlas. Mengapa? Karena dia tidak suka camping. Tidur di tenda dengan berjuta nyamuk dan melakukan ritual-ritual aneh –seperti bernyanyi saat api unggun- sebelum tidur.

“Perhatikan intruksi dari saya maupun panitia-panitia camping yang lain. Jadi…”


Selama Henry mengoceh panjang lebar, Dongbin memandanginya tiada henti. Apa? Ya, karena dia masih mengagumi pesona Henry apalagi saat dia berbicara sebagai ketua panitia. Dia tampak lebih dewasa.

Tiba-tiba Dongbin melihat Henry tersenyum ke arahnya. Ya! Manis sekali senyumnya? Itu yang ada di dalam hati Dongbin. Dia memang jarang melihat Henry tersenyum sambil menatap matanya. Matanya?!

“Jadi dari tadi kau memandangiku?” tanya Henry mendekat ke arah Dongbin. Mati aku! Gumamnya dalam hati. Namun dia segera bertindak.

“Eh, ya. Eummb, memperhatikan instruksimu lah” jawab Dongbin sekenanya.

“Oh ya? Bagus kalau begitu. Memang aku tadi bicara apa saja?” pertanyaan itu membuat otak Dongbin berubah menjadi kaku. Tak bisa berpikir. Dia tadi bicara apa ya?

Saat Dongbin sedang mencari alasan untuk menghindari pertanyaan itu, Henry merangkul Dongbin dan membawanya pergi.

“kita mau kemana?” tanya Dongbin sambil mengikuti Henry yang menarik tangannya.

“Ke danau..” balas Henry singkat.

Di belakang, Dongbin  tersenyum. Senang sekali, pergi dengannya ke danau. Dan, dia menarikku untuk berlari dengannya. Ucapnya dalam hati.

***
“Jadi, bagaimana perasaanmu selama ikut camping di sini?”

“Ya, sebenarnya ini membosankan. Tapi karena ada sesuatu yang membuatku tidak bosan, jadi ini terasa menyenangkan”

“Memang apa yang membuatmu tidak bosan selama ini?”

Dongbin terdiam saat mendengar pertanyaan Henry. Kau, yang membuatku tidak bosan selama mengikuti camping ini, Henry. Balas Dongbin dalam hati.

Sambil menikmati susu kaleng yang dibawa beberapa panitia, mereka berdua memandang keindahan danau di depan mereka.

“Eummb, Dongbin. Eun Hee mengirim sms padaku, dia bilang ada tugas yang harus aku selesaikan. Kau mau pulang ikut aku atau bagaimana?”

Dongbin  terlihat sedikit kecewa, karena dia bersama Henry baru sesaat.

“Aku mau jalan-jalan dulu di sekitar sini. Aku bisa kok pulang sendiri” balasnya sambil tersenyum.

“Baiklah, jaga diri ya. Hati-hati” ucap Henry kemudian berlari menuju area camping.

Dongbin’s POV:
Oke, aku harus pulang sendiri menyusuri hutan belantara yang menyeramkan ini. seumur hidupku, aku belum pernah melihat ayam bergelantungan seperti monyet dari pohon ke pohon. Baru pertama ini, di sini!

Sebenarnya, aku sedikit kecewa saat Henry bilang dia harus kembali karena ada tugas. Padahal momen saat bersamanya, itu yang aku tunggu-tunggu. Hah, Eun Hee, mengapa dia harus memberikan tugas pada Henry?

Ketika melewati jalan setapak, tiba-tiba aku merasakan perutku sakit. Aku mencoba untuk mencari kamar mandi, tapi nihil. Oh Tuhan, tolong selamatkan aku. Aku tak mau berada di sini dalam keadaan perutku sakit.

Aku terduduk lemas di balik batu besar, sambil memegangi perutku yang sakit. Jangan datang sekarang, jebal. Aku tidak membawa apa-apa T__T

“Hey, apa yang kau lakukan di sini?”

Oh, penyelamat datang. Syukurlah. Kupikir tak ada orang yang akan melihatku menderita di hutan antah berantah ini.

Dia!? Namja tengil dari akselerasi itu? Datang sebagai penyelamatku? Kenapa harus dia?

“Apa kau tahu dimana ada kamar mandi?” ucapku pada akhirnya. Terpaksa, karena aku tak mau rasa sakit ini berlanjut.

“Ada. Di sana. Perlu bantuan?” ujarnya tanpa ekspresi. Ekspresi menawarkan bantuan lebih tepatnya.

“Tak perlu, aku bisa berjalan ke sana sendiri” balasku sambil mencoba untuk berdiri.

Dia berjalan di depanku sambil memainkan PSP. PSP lagi! Apa hanya itu yang dia miliki? Sementara itu, aku berjalan merunduk di belakangnya –sedikit jauh, sambil memegangi perutku yang tambah melilit.

Tiba-tiba dia berjalan ke belakang, mengangkat bahuku dan menuntunku untuk berjalan. Ternyata, di balik sikapnya yang cuek bebek itu, dia menyimpan kebaikan hati untuk membantu orang lain. Huh, tadinya aku sempat berpikir kalau dia itu bukan manusia.

Aku masuk ke tempat yang entah bagaimana bisa dikatakan sebagai kamar mandi. Lusuh, kotor dengan dedaunan kering di lantainya. Saat aku sibuk berkutat dengan kegiatanku di kamar mandi, namja PSP itu tak bersuara. Entah dia meninggalkanku atau menungguku sambil memainkan PSPnya.

“Aaaaaaaaaaa!!!!”

Sekuat tenaga, aku berteriak. Apa? Dugaanku terjadi! Dia datang, di saat aku tak membawa apa-apa. Ya! Tamu bulananku datang di situasi genting seperti ini T.T

“Ada apa? Apa aku perlu masuk?” aku hafal suara itu. Yah, namja PSP itu masih menungguku rupanya.

“Anni, tidak perlu” jawabku mencegahnya untuk masuk. Enak saja ikut masuk saat aku panic seperti ini?

“Eh, apa kau bisa mencarikanku ‘roti jepang’ untukku? Ini situasi darurat, aku tak bisa mencarinya sendiri” pintaku pada akhirnya setelah beberapa menit diam.

“Aku bawa”

Hatiku lega mendengarnya, berarti aku tak perlu mendekam di tempat itu selama mungkin lima hari. Tapi, untuk apa seorang namja bisa membawa ‘roti jepang’? dia tidak mungkin kan mengalami apa yang aku alami saat ini? jangan-jangan…

“Ini..” tangannya mengulurkan sebungkus plastic dari balik lubang di atas pintu. Kubuka plastic itu dan..

“Yak! Apa ini? Roti buatan dari Jepang?” shock! Apa sepotong roti dari Jepang bisa menolongku dalam situasi seperti ini?

“Itu masih ada sepotong dari yang aku makan tadi. Oleh-oleh dari saudaraku di Jepang. Itu roti Jepang kan?”

Aku sempat mengumpatnya. Apakah siswa akselerasi tidak pernah diajarkan tentang ‘pubertas remaja’?

“Paboya! Yang aku maksud bukan roti dari Jepang, tapi roti Jepang alias pembalut” teriakku, tak peduli apa reaksinya di luar sana.

“Kau gila menyuruhku mencarikan benda aneh itu? Aku tidak punya” sentaknya dari luar. Hey, bagimu benda itu aneh. Tapi bagi kami, yeoja malang, benda itu adalah Super Hero kami *eh?

“Jebal.. carikan pada anak-anak yang lain. Mungkin mereka ada yang bawa. Tolong aku, apa kau tak kasihan melihat seorang yeoja malang akan masalah ini?” pintaku agar dia mau membantuku. Setidaknya.

“Aissh, arra! Kau tunggu di sini, aku akan mencarikannya. Untukmu!” yay!

Kyuhyun’s POV:
Yeoja itu benar-benar menyulitkan! Rutukku dalam hati. Dia menyuruhku –namja paling keren seantero Seoul- ini, untuk mencarikan benda aneh bernama PEMBALUT? Menjatuhkan reputasiku saja.

“Permisi, apa ada di antara kalian membawa pembalut? Boleh aku minta satu?” ucapku pada akhirnya setelah mempersiapkan segalanya terutama mentalku. Bertanya pada beberapa yeoja, yang sedang ngerumpi di balik tenda itu.Bukannya memberiku satu atau apa, mereka malah saling menatap, berbisik dan tertawa. Menyebalkan!

Aku melanjutkan perjalananku mencari benda bernama ‘pembalut’ itu, setelah salah dari yeoja di tenda tadi mengatakan bahwa mereka tidak ada yang membawanya. Hingga aku mulai bertanya pada seorang yeoja bernama Lee Eun Hee, yang merupakan panitia camping itu.

“Ini..” ucapnya sambil memberiku benda itu. Rasanya tidak tega membiarkan telapak tanganku membawa benda dari luar angkasa itu –mungkin, lebih baik menentengnya dengan pinset di laboratorium!

“Gamsahamnida..” tukasku sebelum pergi meninggalkannya.

Kurasa hanya yeoja itu –yang bernama Eun Hee, yang mampu memaklumiku yang mencari benda itu untuk menyelamatkan seorang yeoja. Yah, yeoja seperti itu yang patut diacungi jempol (?)

“Ini! aku pertaruhkan reputasiku untuk mencari benda itu. Ingat baik-baik, kau berhutang budi padaku” ucapku sambil menunggunya di luar.

Setelah mungkin aku menunggu selama 600 detik, akhirnya yeoja itu keluar.

“Lama sekali?” tanyaku ketus saat berjalan di depannya.

“Semua itu butuh proses” jawabnya. Entah, aku tak tahu apa maksud ‘semua itu butuh proses’.

“Gamsahamnida atas pertolonganmu. Kalau tidak, mungkin aku sudah mati di sana” ucap yeoja itu setelah memecah keheningan.

“Cheonma..” balasku singkat sambil menengoknya di belakang. Wajahnya masih tampak pucat, tapi ini kelihatan lebih baik daripada saat aku menemukannya tersungkur di balik batu tadi.

Author’s POV:
Dongbin menceritakan semua, semua yang terjadi hari itu saat dia kedatangan tamu bulanan tiba-tiba.

“Oh, jadi Kyuhyun mencarikan pembalut untukmu? Kukira untuk pacarnya” ucap Eun Hee di sela tawanya.

“Iya, mungkin kalau tak ada dia, aku akan mati di tempat yang katanya kamar mandi itu” balas Dongbin.

“Eh, jadi namanya Kyuhyun? Anak aksel kan?” tanya Dongbin.

“Ya ampuun, Dongbin. Kamu kemana aja sih? Dia itu anak akselerasi terkenal di seluruh sekolah. Cho Kyuhyun. Namja jenius, keren, ganteng, cool…”

“Cuek bebek, dingin, si wajah tanpa ekspresi. Kurang apa lagi julukan buat dia?” belum sempat Eun Hee melanjutkan bicaranya, Dongbin sudah memotong duluan. Eun Hee hanya memanyunkan bibirnya.

Ponsel Dongbin berdering, ada telepon.
“Yeoboseo?... Ne?.. Sekarang? Oke, tunggu aku ya.. Cheonma”

“Dari siapa?” tanya Eun Hee, setelah  Dongbin  meletakkan ponselnya di tempat semula.

“Henry. Dia mengajakku ke suatu tempat, ada hal yang ingin dibicarakan katanya” jawab Dongbin dengan gembira.

“Oh” begitu respon Eun Hee. Singkat, datar dan tanpa ekspresi.

Di danau…
“Hey, sudah lama menunggu?” tanya Dongbin setelah tiba di danau. Henry segera menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.

“anni.. aku juga baru saja sampai” balasnya tersenyum, senyum yang membius Dongbin untuk ternganga.

“Kau mau bilang apa? Katanya ada hal penting?” tanya Dongbin to the point. Sekalian untuk mengurangi debaran jantungnya yang semakin menjadi karena senyum Henry.

“Dongbin, would you be my girlfriend?”

JEDUEEERRR…

TO BE CONTINUE



0 komentar:

Poskan Komentar